Anton
Chekhov
Di suatu malam, di musim gugur,
seorang banker yang telah berusia lansia berjalan mondar-mandir di ruang
kerjanya. Dia mengingat-ingat kembali sebuah pesta yang diadakannya pada malam
yang sama lima belas tahun yang lalu. Di sana berkumpul banyak pria cerdas dan
mereka membicarakan hal-hal yang sangat menarik, di antaranya adalah topik
tentang hukuman mati. Kebanyakan tamu yang berasal dari kalangan jurnalis dan
cendikiawan menolak adanya hukuman mati. Mereka berpendapat bahwa bentuk
hukuman seperti itu kuno, tidak bermoral, dan tidak sesuai dengan Negara yang
mayoritas penduduknya menganut agama Kristen. Lanjut mereka, hukuman mati
seharusnya digantikan dengan hukuman seumur hidup. “Saya tidak setuju dengan
Anda,” sanggah sang banker yang menjadi tuan rumah pada saat itu. “Saya memang
belum pernah mencoba hukuman mati ataupun hukuman seumur hidup, tapi
berdasarkan sebuah teori, hukuman mati lebih bermoral dan manusiawi
dibandingkan hukuman seumur hidup. Hukuman mati membunuh seseorang secepat
kilat, namun hukuman seumur hidup membunuh seseorang pelan-pelan. Algojo mana
yang menurut Anda lebih manusiawi; yang membunuh Anda dalam hitungan detik atau
yang membunuh Anda dalam hitungan tahun?”
