PENGUMUMAN

Diberitahukan untuk seluruh pembaca Kumpulan Cerpen Terjemahan,


Kini blog KCT akan pindah ke alamat berikut>> https://cerpenterjemahan.wordpress.com/


Untuk selanjutnya, kami akan memposting cerpen baru di sana. Segera setelah kami selesai mengedit cerpen yang lama, dan merepost ke halaman yang baru, blog ini akan kami hapus.


Terima Kasih dan sampai jumpa di halaman yang baru. ^^

Showing posts with label cerpen terjemahan. Show all posts
Showing posts with label cerpen terjemahan. Show all posts

Memento Mori

Pengarang: Jonathan Nolan


"Apa yang terlihat seperti peluru dapat mengelabuhimu!"8 
—Herman Melville

Bagian 1

Istrimu dulu selalu mengatakan bahwa kau akan terlambat mendatangai pemakamanmu sendiri. Apa kau ingat itu? Candaan kecilnya karena kau sangat pemalas -- selalu datang terlambat, selalu melupakan apapun, bahkan sebelum kejadian itu.

Sekarang kau mungkin bertanya-tanya apakah kau sudah terlambat datang ke pemakaman istrimu.

Kau datang ke sana, tenang saja. Itulah gunanya foto itu – foto yang ditempel ke dinding di dekat pintu. Mengambil foto saat pemakaman bukanlah hal yang biasa dilakukan, tapi seseorang, doktermu, kurasa, tahu kalau kau tidak akan dapat mengingatnya. Foto-foto tersebut ditempel dan melekat dengan baik di sana, di samping pintu, sehingga kau tidak mungkin melewatkannya setiap saat kau bangun dan dapat menemukan istrimu di sana.

Lelaki di foto yang sedang memegang bunga? Itu kau. Dan apa yang sedang kau lakukan? Kau sedang membaca ukiran di batu nisan, mencoba mencari tahu di pemakaman siapa kau sekarang, dan sebagaimana halnya kau sedang membacanya sekarang, mencoba mencari tahu kenapa seseorang menempelkan foto itu di samping pintumu. Tapi kenapa susah payah membaca sesuatu yang tidak akan kau ingat?

My Beloved Edith


Pengarang: Tom Gillespie
Penerjemah: Harum Wibowo

Arthur berdiri di depan gerbang dan menunggu kedatangan seseorang. Dia bangun sangat pagi hari ini, bersemangat untuk memulai harinya. Digosok tangannya bersamaan untuk menstimulasi peredaran darah dan memperhatikan apa yang ada di balik pagar terali. Akhirnya seorang lelaki tiba dan membuka kunci gerbangnya. Ditariknya bingkai besi berat tersebut dan perlahan terbuka.
“Pagi Albert, bagaimana perasaanmu hari ini?”
“Beruntung.”
“Yang ini mungkin orangnya, iya kan?” kata lelaki itu dengan antusias.
“Ya. Ah, mungkin kau benar!” Albert tersenyum dan lelaki tersebut kembali ke pondoknya di dekat gerbang. Albert berjalan dengan perlahan di jalan masuk dan kemudian berhenti. Dia tidak dapat mengingat di mana dia berhenti terakhir kali kemarin. Ingatannya tidak sama seperti dulu. Dia meraih kantong jaketnya dan mengeluarkan mapnya. Dia mengecek daftar terakhir. John Macleod, 23 September. Tiga hari yang lalu. Dia mungkin telah lupa untuk memperbaharui daftarnya atau memang tidak pernah sama sekali.

Sredni Vashtar


Pengarang: Saki
Penerjemah: Harum Wibowo

Conradin berumur sepuluh tahun, dan dokter telah mengemukakan pendapat profesionalnya bahwa dia tidak akan mampu hidup lebih dari 5 tahun. Sang dokter terlihat lemah gemulai dan tak berdaya, dan tidak terpandang, namun pendapatnya disahkan oleh Mrs. De Ropp yang sangat terpandang. Mrs. De Ropp merupakan sepupu dan juga walinya Conradin, dan di mata Conradin dia mewakili tiga per lima dari orang sedunia yang diperlukan, tidak menyenangkan, dan nyata; sisa dua per tiganya, dalam antagonisme berkelanjutan sampai dengan yang disebutkan sebelumnya, terangkum di dalam dirinya sendiri dan imajinasinya. Suatu hari Conradin mengira dia akan mengalah pada tekanan dari hal-hal yang melelahkan – seperti penyakit, batasan-batasan yang over-protektif, dan kejenuhan berkepanjangan. Tanpa imajinasinya, yang bisa merajalela jika dipicu oleh kesendirian, dia mungkin sudah menyerah dari dulu.

Miss Brill

Pengarang: Katherine Mansfield 
Penerjemah: Harum Wibowo

Walaupun hari itu sangat cerah – langit biru bertabur dengan emas dan bintik-bintik cahaya menakjubkan seperti wine putih yang memercik di sepanjang Jardins Publiques1 – Miss Brill senang dia telah menentukan fur2-nya. Udara bergerak sangat lambat, namun ketika kalian membuka mulut, akan terasa udara dingin yang samar-samar, seperti yang berasal dari segelas air es sebelum kalian meminumnya, dan sekarang dan lagi sehelai daun gugur – dari antah berantah, dari langit. Miss Brill menaikkan tangannya dan menyentuh pakaiannya. Benda manis!3 Sekali lagi rasanya menyenangkan. Dia telah mengeluarkannya dari kotaknya siang itu, menggoyang-goyangkan bubuk kapur barusnya4, menggosoknya perlahan-lahan, dan menggosok-gosok matanya sampai terbuka lebar. “Apa yang sedang terjadi padaku?” ujar mata menyedihkan itu. Oh, manisnya melihat mereka marah padanya lagi dari selimut-angsa merahnya!…Tapi hidung itu, yang terdiri dari warna hitam, sama sekali tidak lurus. Hidung itu, entah bagaimana, pastilah sudah pernah terkena pukulan. Tidak perlu dipermasalahkan – secolek kecil dari lilin segel5 hitam ketika saatnya tiba – ketika itu benar-benar diperlukan… Anak nakal! Iya, dia benar-benar merasa seperti itu. Anak nakal yang menggigit ekornya sendiri tepat di pinggir daun telinga kanannya. Dia bisa saja melepaskannya dan menaruhnya di atas pangkuannya lalu menggosoknya. Dia merasakan sensasi geli di tangan dan lengannya, namun itu karena berjalan-jalan tadi, pikirnya. Dan ketika dia menghela nafas, sesuatu yang ringan dan menyedihkan – bukan, bukan menyedihkan, tepatnya – sesuatu yang lembut terasa bergerak di dadanya.

It's Just The Sun Rising


(Sekedar Matahari Terbit)

Pengarang: James Ross
Penerjemah: Harum Wibowo


Kamarku menghadap ke arah sinar matahari pagi dan pada pagi hari di musim panas yang cerah hal itu akan membangunkanku dalam keadaan segar dan bugar, tak peduli sampai jam berapa aku bergadang semalam; aku akan bangun dan membuat sarapan, menonton TV, mandi. Jika masih jam enam pagi aku biasanya meminum segelas teh dan kembali ke kasur di mana aku akan tidur sebentar sampai jam tujuh dan bangun dengan rambut acak-acakan.
Jika aku menginap di tempat saudariku, aku tidur sampai anak-anak membangunkanku atau sampai dia datang, menghambur dari belakang sebuah taxi, yang mana saja yang lebih dulu. Aku memang gampang bangun dan penidur pulas.

Pagi ini aku bangun dengan terkejut, seolah jam alarm di kepalaku telah memberikanku sengatan listrik; cuaca di luar tidak cerah, kutarik korden dan langit terlihat berwarna abu-abu gelap, sama halnya dengan warna laut dan kelihatannya matahari tidak akan muncul sebelum besok.

Covenant


(Janji)

Pengarang: Crystal Arbogast
Penerjemah: Harum Wibowo


Ribuan helm bergerak dengan tiba-tiba ke belakang saat kapal tandu1 tersebut tercebur ke dalam gelapnya air. Percikan air laut berkilauan di permukaan manapun yang disentuhnya, menangkap cahaya tembakan artileri. Prajurit Eddie Hagen memandang sekilas pada wajah-wajah orang di sekitarnya. Beberapanya sedang berdoa, sementara yang lainnya memegang foto atau kenang-kenangan dari kekasih dan keluarga sebelum memasukkannya kembali dengan hati-hati ke dalam jaket mereka. Sisanya menatap dengan tatapan kosong entah ke arah mana, wajah mereka tidak memiliki ekspresi, tanpa mengkhianati perasaan di dalam hati.

“Ini dia, kawan!”

After The Wink


(Setelah Kedipan)

Pengarang: Carolyn Steele Agosta
Penerjemah: Harum Wibowo


Awalnya tidak berbahaya.

Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya sedang merasakan salah satu dari mood tersebut. Maksudku, ketika kalian berumur 42 tahun dan mempunyai 3 anak dan seorang suami dan banyak tanggung jawab, siapa yang akan mencari kesenangan juga? Bukan kesenangan buruk, seperti ketika kalian harus mengerem dengan keras dan semua aliran darahmu naik dengan drastisnya1.

Iya, benar, aku sudah banyak memperhatikan para pria akhir-akhir ini. Lengan mereka, khususnya. Jangan tanya aku kenapa, tapi aku tiba-tiba menjadi tertarik pada lengan pria. Pergelangan tangannya, berbulu tipis, dengan garis-garis uratnya dan gelombang otot di sikunya yang tidak dimiliki para wanita. Dan tangan pria, persegi dan kuat. Aku melihatnya ada di mana-mana. Di restaurant. Di SPBU, di tengah-tengah K-Mart, ya Tuhan. Itu sungguh memalukan menyadari bahwa aku amat sangat terangsang2.

Morg


Pengarang: Clare Reddaway 
Penerjemah: Ropen Apriono


Morg kesal. Lebih dari kesal, ia teramat sangat marah. Lagi-lagi ia harus memilih untuk mengkhawatirkan adik kecilnya itu. Biasanya ia selalu riang, seperti saat ia melihat adiknya itu tersandung karena kakinya yang masih pendek, atau saat adiknya itu mengoceh tidak jelas dengan gayanya yang mengundang tawa itu, tetapi hari ini ada sesuatu yang jauh lebih menarik terjadi. Para kaum pria sudah bersiap-siap untuk pergi berburu. Sudah berbulan-bulan lamanya tidak ada perburuan. Pertama karena akhir-akhir ini terlalu sering turun hujan dan kemudian terlalu banyak yang harus dikerjakan saat panen. Tapi sekarang semua gandum sudah dikemas dan biji-bijian itu semua disimpan dalam lubang. Sang tabib sudah hadir di sini, ia membawa berkah dari para Dewa dan juga obat-obatan bagi penduduk desa. Kepala suku telah memutuskan bahwa sudah waktunya untuk pergi berburu. Di luar orang-orang berkumpul dan sang tabib sedang menjelaskan beberapa hal pada mereka. Morg ingin sekali berada di sana, bersama mereka.

Tapi Morg tidak diizinkan untuk pergi. Ia bahkan tidak diizinkan untuk sekedar melihat-lihat. Adiknya sedang sakit. Ia kerasukan semacam roh jahat di dadanya yang membuatnya batuk terus menerus. Ia harus selalu tetap hangat, dan untuk itu ia harus tetap berada di pondok. Oleh karena itu, sementara saat ibunya mengambil air, Morg harus tinggal di gubuk juga, menjaga adiknya.

David’s Haircut

(Potongan Rambut David) 

Pengarang: Ken Elkes
Penerjemah: Musyaitul Nanang K.

Ketika David melangkah keluar dari pintu depan, sejenak dia merasa silau oleh cahaya matahari dan kemudian meraih tangan ayahnya secara naluriah.
Hari itu merupakan hari terhangat pertama sepanjang tahun, panas yang tak terduga yang menghubungkan antara puncak musim semi dan musim panas. Ayah dan anak ini sedang dalam perjalanan menuju pangkas rambut, sesuatu yang selalu mereka lakukan bersama.
Rutinitas yang selalu sama. “Saatnya kita memotong rambutmu,” ayah David akan berkata demikian, menunjuk ke arahnya dengan dua jari, sebuah rokok terjepit di antaranya. “Mungkin aku harus melakukannya. Di mana gunting-gunting itu, Janet?”

Hope and Comfort

(Harapan dan Kenyamanan)

Pengarang: A.J. McKenna
Penerjemah: Mulya Sari Bunaya


Charley Foley berkunjung ke rumah sakit Mater Misericordia untuk mengunjungi istrinya.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya, sembari duduk di samping tempat tidur, dekat dengan Dolly yang tersenyum ke arahnya, rambutnya yang hitam bersandar ke bantal putih.

"Aku baik-baik saja," kata Dolly, sendu. Dia tampak tua dan lelah di mata Charley, wajahnya sepucat mayat dan dengan kantong hitam di bawah matanya. Ketika ia menyelipkan tangannya ke tangan Charley, Charley melihat dua bintik coklat hati yang jelek di tangannya yang kecil.

“Kau tampak lelah,” kata Charley. “kau tidak tidur?”

“Aku sedikit gelisah semalam.”

Dolly tak membahas tentang kesakitannya. Ia tak ingin membuat suaminya cemas.

“Ada kabar dari Linda?” tanyanya.

The Time-Sweepers



THE TIME-SWEEPERS
(Penyapu Waktu)

Pengarang: Ursula Wills-Jones
Penerjemah: Harum Wibowo

Kalian mungkin tidak akrab dengan istilah penyapu waktu. Penyapu waktu adalah orang yang menyapu semua waktu yang hilang dan terbuang. Kalian tidak dapat melihat mereka, meskipun begitu, jika kalian berada di stasiun kereta api dan berpikir kalau kalian melihat sesuatu dari sudut mata kalian, itu mungkin adalah seorang penyapu waktu yang sedang bersih-bersih di sekitar bangku yang kalian duduki. Jika kalian melihat mereka, kalian akan menemukan seseorang yang berbadan kecil kebiruan dengan expresi serius, memegang sapu dan kain pel. Para prianya mengenakan pakaian kerja, wanitanya mengenakan rok berbahan wol yang kuno dan syal di kepala mereka.

Penyapu waktu hadir di manapun ketika waktu dihabiskan atau dibuang sia-sia. Selalu ada beberapa penyapu waktu di stasiun kereta api, dan setidaknya satu di setiap tempat dokter bedah. Seorang pria yang telah menunggu begitu lama untuk melamar pacarnya sampai rambut si wanita beruban, mungkin memiliki penyapu waktu pribadinya sendiri yang selalu mengikutinya kemanapun. Seorang wanita yang telah menghabiskan tiga puluh lima tahun yang dibencinya di sebuah agen real estate, bermimpi membuka toko bunga, menyebabkan penyapu waktu di dekatnya mendesah, dan mengambil sebuah Pengki1 yang lebih besar.